Kamis, 24 November 2016

Utama

Rasaku..
Aku tak pernah bisa mengatakan apa yang sebenernya ku rasakan..

Kamu tau apa yang aku rasakan?
pedih..
aku jatuh bersama rasa yang menenggelamkanku.
Saat semua terasa indah.
padahal itu hanya semu..
Saat rasa yang tak seharusnya ada, malah melebar tak terkendali.

Apa kamu tau?
Aku sangat menyukaimu..
Benar-benar menyukaimu..
Tapi, kamu pasti heran kenapa aku malah menjauhimu.
meninggalkan dirimu ,dan semua kenangan bersamamu..
Karena aku tak mungkin mengatakan rasa ini kepadamu..

Bagaimana bisa aku mengatakannya, ketika kau mulai bercerita tentang rasamu padanya?

Bagaimana bisa aku mengatakannya, ketika kau bercerita dengan raut wajah bahagia saat bersamanya?

Bagaimana bisa aku mengatakannya, ketika kau mengadu padaku, tentang kesakitan saat ia melukaimu?

Bagaimana bisa aku mengatakannya, ketika kau mengatakan bahwa aku adalah sahabatmu?

Tak akan bisa..
Dan untuk memperlihatkannya sedikit saja, aku tak bisa..
aku tak mau melukaimu, karena rasaku..

Aku tak mampu melihat senyummu itu pudar..
Sungguh, aku ingin melihat dirimu bahagia.
Tapi, ketika dirimu mulai bercerita..
Aku tak bisa berbohong tentang rasa ini..
ini..
sangat pedih..
Dan menyiksaku..

Tapi, ketika kau bercerita, tentang kesakitan saat ia ,wanita yang sangat engkau cintai menyakitimu..
Hatiku lebih sakit lagi..
Aku tak bisa melihatmu terluka..
terpuruk..
Rasa sakitnya menusuk hatiku, bersama cahaya bulan yang seakan memudar.
Karena, Rasamu lebih berharga ketimbang rasaku.

Lalu,sebenarnya..
Aku takut, ketika aku tetap di tempat yang sama..
Aku akan makin menyukaimu..
Rasa ini akan berakar, dan tumbuh tak terkendali..
Karena kamu adalah laki-laki yang baik..
Sangat baik..

Dan, aku juga tahu seberapa besar kau mencintainya..
Rasa cintamu padanya sangatlah besar ..
Dan, masalah rasaku padamu?
Itu bukan hal yang penting..
Karena yang menjadi lakon utama dalam hidupmu adalah dia..

Dia yang selalu engkau ceritakan padaku..
Dia yang selalu engkau selipkan dalam doamu..
Dia yang selalu engkau impikan tiap malam..
Dia yang selalu engkau rindukan.
Dia, wanita yang sangat dirimu cintai..

dan Dirimu..

Aku selalu berharap, bahwa dirimu akan selalu bahagia..
Dirimu yang pernah menjadi lakon utama dalam hidupku..
Dirimu, yang benar-benar aku cintai..
Dirimu yang selalu aku rindukan..







Aku mencintaimu..

Senin, 04 Juli 2016

Laut

Kita tak akan pernah tahu, kepada siapa akhirnya kita akan jatuh cinta. Kepada siapa kita akan kehilangan akal rasional. Seperti menyelam lautan, kamu tak akan tau seberapa dalamnya lautan itu. Gemercik ombak, dan indahnya kemilau cahaya surya , membawa kita ingin masuk lebih dalam pada laut itu. Awalnya masih bisa merasakan tubuh kita sendiri, tapi semakin dalam... Lebih dalam. Membuat kita lupa bagaimana caranya bergerak.. Bernafas.., laut yang telah mengendalikan kita. Seperti hidup kita tak bisa pergi darinya. Sementara, daratan semakin jauh dari pandangan. Yang kita lihat hanya dirinya seorang. Hingga kita terbuai oleh keindahannya, hingga kita lupa tentang keindahan lainnya yang bukan ia satu-satunya.
Hanya saja, laut itu telah diterjuni. Tapi, kenapa ia tampak seolah jauh? Bukankah seharusnya kami dekat? Ia tak pernah ingin bersama.

Dan pada saat itu, kembalilah ke daratan, bertemu sang surya, ataupun ksatria malam yang gagah, dan juga putri rembulan yang bercahaya.

Seperti itu, ya seperti itu.. 'Cinta'

Selasa, 07 Juni 2016

Bibir yang mengatup

Ada guratan rasa sakit yang masih meluap-luap dengan datangnya kecewa
Bisakah aku membencimu?

Senyum getir yang semu, mencoba menutupi kepedihan ini. Membuang bayangmu jauh-jauh. Sedangkan hatiku tak ingin beranjak.

Sungguh. Aku tak pernah berniat membencimu. Menjadikanmu salah satu wajah yang tak ingin ku toleh.
Bukan hanya padamu. Aku juga tak ingin membenci semua orang.
Membenci, membuat hatiku membatu. Mengeras dan kaku. Seperti ada ribuan paku yang siap menancap setiap relung hatiku. Mematikan rasa cinta dan kasih..
Sungguh, aku tak mau membiarkan itu terjadi.

Lantas, kepada siapa aku bisa mengadu. Kecewaku,sakitku,dukaku..
Lalu, wajah itu. Tak ada sedikit pun rasa menyesal. Ntah lupa, atau seakan tak tau.

Tapi, kau tau. Masih saja si bodoh ini menerimamu. Sebagai temanmu. Dan membuang jauh rasa kecewa. Tapi herannya,lidahmu masih saja mengatup diam. Tak ingin mengucapkan sepatah apapun. Begitu beratnya.

Kau tau, aku telah memaafkanmu. Mungkin kau kira kita saling membenci. Padahal sebenarnya aku tak membencimu. Sempat sakit hatiku. Tapi kalah dengan perasaan empatiku. 'Teman'

Tapi, bisakah kau yang memulai membawaku pergi meninggalkan diam kita?
Kembali ke bisingnya suara tawa.
Kembali ke rengekan manja bodohmu.
Dan tepati janjimu.
Seperti laksana seorang laki-laki sejati..