Selasa, 07 Juni 2016

Bibir yang mengatup

Ada guratan rasa sakit yang masih meluap-luap dengan datangnya kecewa
Bisakah aku membencimu?

Senyum getir yang semu, mencoba menutupi kepedihan ini. Membuang bayangmu jauh-jauh. Sedangkan hatiku tak ingin beranjak.

Sungguh. Aku tak pernah berniat membencimu. Menjadikanmu salah satu wajah yang tak ingin ku toleh.
Bukan hanya padamu. Aku juga tak ingin membenci semua orang.
Membenci, membuat hatiku membatu. Mengeras dan kaku. Seperti ada ribuan paku yang siap menancap setiap relung hatiku. Mematikan rasa cinta dan kasih..
Sungguh, aku tak mau membiarkan itu terjadi.

Lantas, kepada siapa aku bisa mengadu. Kecewaku,sakitku,dukaku..
Lalu, wajah itu. Tak ada sedikit pun rasa menyesal. Ntah lupa, atau seakan tak tau.

Tapi, kau tau. Masih saja si bodoh ini menerimamu. Sebagai temanmu. Dan membuang jauh rasa kecewa. Tapi herannya,lidahmu masih saja mengatup diam. Tak ingin mengucapkan sepatah apapun. Begitu beratnya.

Kau tau, aku telah memaafkanmu. Mungkin kau kira kita saling membenci. Padahal sebenarnya aku tak membencimu. Sempat sakit hatiku. Tapi kalah dengan perasaan empatiku. 'Teman'

Tapi, bisakah kau yang memulai membawaku pergi meninggalkan diam kita?
Kembali ke bisingnya suara tawa.
Kembali ke rengekan manja bodohmu.
Dan tepati janjimu.
Seperti laksana seorang laki-laki sejati..